
Ajeg Bali
Ajeg berarti kuat atau ‘standing strong’. Slogan Ajeg Bali lahir pada bulai Mei 2002, dan baru dirasakan menggigit justru setelah peristiwa bom Bali Oktober 2002. Kenapa ?
Kita tahu Bali dikenal sebagai ‘The Island of Gods’ Pulau Dewata, atau ‘Cultural Safe Paradise’ Surga alami yang indah dan aman tenteram bebas dari teroris. Sudah puluhan tahun pulau Bali telah mendapat kepercayaan menjadi ‘meeting point’ wisatawan manca negara untuk bertemu dengan suasana yang eksotik dan relaks. Namun sejak terjadinya bom Bali 2002 dan 2005, citra ini mulai diragukan dunia dan Bali berniat memperbaikinya melalui semangat Ajeg Bali yaitu yang secara menyeluruh berarti semangat untuk melindungi, menguatkan dan mengembalikan kemurnian kebudayaan Bali.
Fase pembentukan jati diri Bali sebagai salah satu pulau wisata kelas internasional memang berlangsung sangat dinamis dan penuh tantangan tanpa seseorang dapat mencegahnya. Pariwisata Bali lahir pada tahun 1970, dan disitulah momentum besar dimana Bali menjual kharisma kebudayaan serta keseniaannya untuk dilihat mata dunia. Dan Balipun berubah perlahan namun pasti.
Wisatawan domestik dan internasional berbondong-bondong menyerbu Bali dan benar2 jatuh cinta dengan keindahan alam pegunungan dan pantainya, kekayaan habitat dasar lautnya dan keunikan budayanya mulai dari pura/bangunan, tarian, seni lukis dan pahatnya. Mereka datang secara rutin dan dalam jumlah grup yang makin lama makin besar. Tak heran Pulau Bali menjadi putri kesayangan bangsa Indonesia karena menghasilkan banyak devisa negara.
Jumlah turis internasional yang datang mulai dari 300.000 orang pada tahun 1988 sampai mencapai 3 juta orang pada tahun 2001, hampir sama dengan populasi Pulau Bali 3.2 juta orang pada saat itu. Spektakuler bukan ?
‘The tourist boom’ ini otomatis membuat Bali mengalami perluasan sector pariwisata secara berkesinambungan dalam waktu cukup singkat. Dari rencana awal yang hanya ingin mengkonsentrasikan kawasan Nusa Dua untuk daerah wisata berubah menjadi pembukaan 9 area wisata pada tahun 1970. Dan pada tahun 1988 telah berkembang menjadi 24 area dan tahun 1993 dibuka 6 area baru lagi.
Bali dan reputasi hebatnya ini membawa dampak yang luar biasa bagi lingkungan/alam pulau dan mempengaruhi kondisi sosial masyarakatnya. Hal ini juga membuat penduduk asli Pulau Bali berada dalam dilema yang panjang menanggapi gejolak perubahan skala besar yang terjadi selama kurun waktu 30 tahun seperti dibawah ini :
Perubahan lingkungan/alam :
1. Pulau Bali yang sebelumnya merupakan daerah agraria dengan geografisnya didominasi pertanian, dengan penduduknya yang sebagian besar petani, setiap tahun kehilangan 1.000 hektar tanah pertaniaanya untuk pembangunan sektor wisata. Sehingga proporsi agraria menjadi hanya 21 % dibanding parawisata 63% pada tahun 2002. Hal ini bisa dinilai sebagai bukti kesuksesan pariwisata Bali, namun dilain pihak bisa juga dianggap puncak ketergantungan Bali kepada pariwisata, baik untuk lowongan pekerjaan maupun penghasilan utama penduduknya.
2. Daerah pertanian traditional yang tersisa inipun pada akhirnya tetap dieksploitasi menjadi sumber pendapatan pariwisata. Misalnya Ubud, ada tawaran tour 1 hari ke kawasan monkey forest, mountain temple dan pemandangan pematang sawahnya yang indah sambil berarung jeram. Hal ini mengakibatkan menjamurnya artshop, hotel dan minimarket menutupi rapat badan kiri dan kanan jalan, sehingga sekarang sulit ditemukan lagi pemandangan padi menguning di lahan persawahan. Entah sampai kapan persawahan Ubud mampu bertahan dari desakan pariwisata ini.
3. Menggantikan tanah pertanian ini, pembangunan hotel mulai dari yang tanpa bintang sampai dengan yang berbintang 5 lengkap dengan lapangan golf, villa berbagai tipe kamar, restoran multi benua, ruko, artshop, souvenir shop dan minimarket tidak terkontrol. Yang paling mengkhawatirkan adalah pemenuhan kebutuhan air untuk mengisi kolam renang hotel dan disetiap kamar villa yang tidak pernah dipikirkan dampaknya, dan kurangnya kesadaran masyarakat untuk menggunakan air bersih sebaik mungkin. Hal ini sudah mengakibatkan masalah serius untuk pasokan air kebutuhan rumah tangga di Denpasar dan kebutuhan irigasi pertanian Subak.
4. Transformasi lahan menjadi daerah wisata baru sebagai usaha untuk melengkapi daya tarik Bali seperti GWK, kebun binatang, lahan permainan pintball dll mengambil jatah lahan pertanian dan hutan lindung yang cukup besar. Hal ini menyebabkan erosi tanah dan pasokan air tanah berkurang drastis yang mempengaruhi struktur alam geografis Pulau Bali.
Perubahan sosial masyarakat :
1. Sebelum tahun 1970, pemandangan sekelompok wanita Bali berjalan dengan bertelanjang dada atau sekelompok gadis Bali berbagai usia bersenda ria mandi di pancuran/pinggir jalan pematang sawah masih bisa dinikmati oleh para turis yang kebetulan lalu lalang. Ritual menyegarkan tubuh di alam bebas ini juga menjadi salah satu daya tarik wisatawan. Pemandangan indah ini juga banyak memberikan sumbangan ilham untuk dunia seni lukis Bali hingga terkenal ke seluruh dunia. Sayangnya aktivitas keseharian masyarakat desa di Bali yang alami ini sudah tidak bisa ditemukan lagi karena pengaruh modernisasi.
2. Hari raya Nyepi juga mengalami pergeseran arti dan aplikasi. Diwaktu lampau Pulau Bali begitu sepi bagai pulau mati setiap perayaan Nyepi, tidak ada orang yang berada di luar rumah dan didalam rumah pun sama sekali tidak boleh menyalakan lampu/alat elektronik dan kompor. Untuk hal ini Bali mau tidak mau berkompromi demi nama pariwisata. Konsep Nyepi pun sulit di-imani oleh para pendatang/imigran walau mereka tidak keberatan mengikuti aturan tata pelaksanaannya.
3. Kehikmatan masyarakat Bali dalam merayakan upacara keagamaan penting di pura2 dan pantai2 khusus menjadi terusik karena pembangunan hotel2 berbintang dan restoran tidak mematuhi peraturan yang sudah disepakati yaitu bangunan tidak diperkenankan dibangun lebih tinggi dari pohon kelapa dan tidak diperbolehkan berada dengan dalam jarak 2 km dari pura/pantai lokasi ritual keagamaan dilangsungkan. Gemerlap lampu dan hingar bingar musik dari klub hotel yang terlalu dekat, menyebabkan distorsi keheningan malam kelam di pura..Untuk hal ini Bali pernah melakukan protes keras terhadap pembangunan Hotel Meridien Nirwana yang mengambil keuntungan dari pemandangan sakral Pure Tanah Lot.
4. Pengaruh luar (barat) yang berbahaya yaitu tindakan kriminal, konsumsi alhokol, penggunaan narkotik, gaya hidup materialistis. Belum lagi aktivitas yang sehubungan tidak langsung dengan pariwisata seperti menjamurnya istilah ‘Gadis Expart’, ‘Bali Boy’ dan ‘Bali Gay’ telah memicu keprihatinan penduduk Bali karena ini adalah tanda kelunturan nilai tradisional agama yang mereka yakini.
5. Imigran dari Jawa, Madura, Lombok dan pulau sekitarnya membanjiri Bali dimulai pada tahun 1970 untuk mencari mata pencaharian di Bali sebagai penjual sate, bakmi, bakso dan supir taxi. Mereka adalah komunitas beragama Islam dan sedikit banyak membawa warna berbeda untuk Pulau Bali yang mayoritas Hindu. Penduduk Bali tidak anti terhadap kehadiran kaum minoritas yang hanya 10% dari seluruh penduduk pulau Bali ini tapi secara naluriah mereka menjadi waspada paska teror bom bali yang begitu traumatik.
6. Imigran WNI keturunan Tionghoapun memilih Bali untuk tempat melarikan diri, paska kerusuhan Mei 1998 di Jakarta. Mereka membeli rumah toko dan berbisnis kecil2an demi mencari kehidupan yang lebih tenang dan aman diantara mayoritas umat Hindu di Pulau Bali. Sejak saat itu bisnis skala rumah tangga seperti kios minuman/minimarket dan wartel/warnet menjamur di jalan-jalan strategis kawasan wisata.
7. Bali makin macet, panas dan polusi. Bukan hanya populasi Pulau Bali yang bertambah padat yaitu hampir mencapai 3.4 juta orang pada thn 2007, tetapi juga pemilikan kendaraan bermotor meningkat yang membuat sekarang jalan-jalan di Bali yang cenderung tidak luas menjadi sumpek dan semerawut dengan ratusan motor yang lalu lalang di bahu jalan trotoar. Disamping yang saya tahu bahwa setiap anggota keluarga Bali punya 1 motor, artinya keluarga dengan 4 anggota berarti punyai 4 motor, juga banyak berkeliaran kendaraan berplat asal Jawa (Jakarta, Surabaya dsb). Jumlah kecelakaan di Bali meningkat tajam dari thn 2003 hanya sebesar 320 kasus menjadi 1.419 pada thn 2007.
8. Yang terakhir adalah dampak reformasi, menjadikan Bali yang adem kalem bergolak hebat dalam mendukung abis-abisan PDI Perjuangan yang diwakili oleh Megawati Soekarnoputri (yang berdarah Bali) pada pemilu 1999. Sejak saat itu, Bali menunjukkan indentitas pandangan politiknya dan tetap mempertahankan dukungan itu sampai pemilu 2009 kemarin.
Dan apapun sudah bentuk Bali yang sekarang, sepertinya penduduk Bali mulai keblinger sendirian. Itulah alasannya kenapa Bali sibuk ber Ajeg-ria. Aplikasi Ajeg Bali yang telah dilakukan misalnya : propaganda slogan Ajeg Bali dimana-mana, mengadakan seminar dan diskusi Ajeg Bali, menghimbau penggunaan bahasa Bali dan baju adat Bali, membentuk Pecalang (polisi adat) untuk membantu mengatur jalannya upacara keagamaan di Bali, pemilihan berbagai macam profesi Ajeg mulai dari Guru Ajeg, Profil paling Ajeg sampai pemberian predikat Pahlawan Ajeg.Dan terakhir untuk mengimbangi warung "bakmi halal", orang Balipun membuat padanannya yaitu warung "bakmi asli bali " yang artinya mengandung babi.
Tapi apakah semangat Ajeg seperti diatas mengenai sasaran yang dituju ? Apakah benar Bali akan terlindungi, cukup kuat untuk menghadapi tantangan pariwisata dimasa depan dan akan mampu menemukan kembali kemurnian dan keaslian akan kebaliannya ? Apakah tindakan pencegahan dan penanggulangan masalah2 yang ada di Bali sudah tersentuh oleh Ajeg Bali ?
AGENDA 21
Pada bulan Juni 1992, diadakan pertemuan skala besar ‘Earth Summit’ di Rio de Janeiro-Brazil untuk mendiskusikan masa depan dari bumi dan lingkungannya. Salah satu yang dihasilkan Earth Summit ini adalah Agenda 21, berupa rencana praktis untuk dilaksanakan oleh seluruh dunia untuk mencapai perkembangan pariwisata yang terarah, terkontrol dan berkesinambungan.
· Menghormati lingkungan dan kebudayaan penduduk setempat.
· Jangan bikin resort terlampau padat bangunan.
· Pembangunan hotel dan resort harus cocok dengan lingkungan setempat
· Lindungi lokasi bersejarah dan monumen kuno.
· Larang perdagangan illegal untuk peninggalan kesenian bersejarah dan souvenir binatang liar yang dilindungi.
· Salurkan keuntungan dari pariwisata untuk penduduk lokal setempat
· Kurangi (reduce) sampah, usahakan penggunaan kembali (reuse) dan daur ulang (recycle), juga usahakan penggunaan energi tenaga alam yaitu tenaga matahari. angin dan air.
· Lindungi air bersih dengan pengaturan pembuangannya yang harus hati-hati.
· Promosi cara berwisata bebas polusi.
· Tampung air bersih untuk cadangan kekurangan air.
Tindakan nyata yang bisa dlakukan Bali adalah :
1. Mengontrol dengan baik pembukaan lahan pariwisata agar seimbang dengan lahan agraria, hal ini akan membuat Bali tetap kuat bila sewaktu-waktu bisnis pariwisata memburuk dan terpuruk jatuh.
2. Memantau pendirian hotel dan resort baik di lokasi wisata maupun di lokasi2 penting ritual keagamaan (pure/pantai), yaitu dengan membuat peraturan yang jelas tertulis dan memantau pelaksanaannya.
3. Selain membiarkan kebudayaan dan upacara keagamaan di Bali menjadi konsumsi wisatawan, juga dilakukan sosialisasi terus menerus agar baik wisatawan asing/domestik maupun imigran yang menetap di Bali dapat menghormati nilai2 kebudayaan, kesenian dan ritual keagamaan penduduk Bali dengan pemahaman yang lebih baik.
4. Para pelaku bisnis pariwisata Bali wajib menyalurkan segenggam keuntungan juga untuk masyarakat lokal setempat yang hidup di area2 pariwisata. Misalnya dengan melakukan pendirian sekolah, pemberian dana untuk upacara atau sumbangan pemugaran pura dll.
5. Kurangi macet dan polusi udara dengan mempropagandakan penggunaan sepeda, delman, jalan kaki dan pengadaan angkutan umum khusus turis untuk berpesiar di daerah2 rawan macet.
6. Untuk penggunaan air keperluan besar seperti kolam renang, para penyedia harus mengusahakan menggunakan air seirit mungkin misalnya air bekas kolam digunakan untuk menyiram bunga dan dan penyedia harus menjamin pembuangan air sebaik mungkin, tidak menyebabkan polusi air.
7. Untuk mengatasi masalah kekeringan pada musim kemarau dan kekurangan pasokan air, dihimbau masyarakat Bali melakukan penghijauan, penanaman pohon mengadakan penampungan air hujan. Dan untuk menjaga kapasitas air tanah dan kwalitas tanah itu sendiri, perijinan diperlukan untuk usaha pembuatan sumur untuk mengambilan air. Penggalian sumur bukan untuk sendiri melainkan diatur untuk suatu komunitas kelompok.
8. Memberikan pendidikan dan pengetahuan kepada penduduk dipesisir, agar turut menjaga modal utama pariwisata Bali yaitu dengan menghindari pengerusakan terumbu karang dan habitat laut dengan penggunaan bom secara sengaja untuk menangkap ikan.
9. Memperkuat pertahanan dan memperketat pengawasan wisatawan yang mendarat dan berangkat di Bandara dan juga pemeriksaan barang2 yang masuk ke Bali untuk menghindari penyelundupan narkoba maupun senjata/bom gerakan teroris.
Walaupun pariwisata di Bali mengalami pasang surut silih berganti menyusul soal bom Kuta, heboh flu burung, issue flu babi sampai bom teror di JW Marriot Jakarta, tapi data tahun 2008 menunjukkan bahwa jumlah turis internasional yang mampir ke Bali masih cukup stabil yaitu 1,7 juta wisatawan internasional, dan Bali pun dibanjiri wisatawan lokal yang mencapai 3 juta orang.
Pada tahun 2009 wisatawan yang ke Bali mencapai 6.000 orang per hari. Dari data ini saja terlihat bahwa kalau Bali mau peduli untuk mengantisipasi kerusakan yang telah terjadi, saya optimis Bali dapat berdiri kuat dan menyelamatkan masa depan pulaunya. Saya percaya Bali dapat melindungi diri dari kemungkinan lunturnya nilai kebudayaan dan keseniaannya karena pengakaran budaya yang kuat, tidak semata-mata dipermukaan saja. Saya sungguh berharap Bali dapat meraih kembali kedamaian bebas teroris di tanahnya. Dan saya sangat setuju apabila kita para wisatawan domestik mendukung usaha Bali yang ingin menjadi daerah wisata modern tanpa mengorbankan kebaliannya.
Bali, pulau wisata terbaik di Dunia
Pada tanggal 23 Juli 2009 lalu, Bali untuk yang keenam kalinya secara berturut-turut, kembali dinobatkan sebagai pulau wisata terbaik dunia oleh majalah pariwisata terkemuka di Amerika Serikat, Travel+Leisure. Secara keseluruhan, Bali telah mendapatkan penobatan sebagai pulau wisata terbaik sebanyak delapan kali oleh majalah bertiras 1 juta exemplar ini.
Jajak pendapat yang dilakukan oleh Majalah Travel+Leisure atas para pembacanya, memusatkan penilaian kepada sejumlah kriteria, antara lain : daya tarik alam, kegiatan, tempat wisata, restoran atau makanan dan keunikan masyarakat.
Dan berikut adalah 10 pulau wisata terpilih dari hasil jajak pendapat tersebut : PULAU BALI (87,41 persen) sebagai yang terbaik dan diikuti oleh Maui (86,22), Kauai (85,92), Galapagos Islands (85,92), Santorini (85,82), Vancouver Island (85,17), Dalmatian Islands-Kroasia (85,15), Phuket-Thailand (84,15), Hawaii (84,40) dan Great Barrier Reef Islands (83,70).
Sepertinya ini adalah kuntum bunga dari Ajeg Bali. Saya bangga dan berharap agar prestasi yang diraih Bali kali ini dapat menghasilkan buah yang baik dan memulihkan citra Bali sesuai dengan semangat Ajeg-nya.
Hidup Bali. Hidup Ajeg Bali. Mari kita bantu Bali.