Friday, January 1, 2010


Aku seorang Kapitan

Cerita sejarah untuk anak2 tentang Souw Beng Kong (1580-1644)




Berasal dari China Selatan

Di sebuah daerah bernama Tong’an, provinsi Hokkian ada seorang anak laki2 yang bernama Souw Beng Kong.

Pada usia remaja dia tumbuh menjadi pemuda yang gagah, ulet, pandai bergaul dan mempunyai jiwa kepemimpinan. Souw Beng Kong sangat mengagumi Laksamana Ceng Ho dan sangat tertarik dengan kisah perjalanan beliau ke negara di Asia Afrika. Di dalam hati kecilnya, Beng Kong bercita2 suatu hari akan berlayar mengelilingi dunia dan hidup merantau di negara orang.


Berlayar dan tiba di Banten, Indonesia

Pada usia semuda 24 tahun, ternyata cita2nya itu terwujud. Dengan menumpang perahung Jung2 yang bertujuan membeli hasil bumi yaitu lada dan kopra, Souw Beng Kong dan beberapa rekannya mendarat di kota niaga Banten kepulauan Nusantara.

Souw Beng Kong sangat kagum dengan kota Banten yang begitu indah dan ramai. Sehingga ketika kapal Jung2 yang ditumpanginya berlayar pulang ke China, dia memutuskan untuk tetap tinggal dan mencoba memulai kehidupan baru di Banten.

Dengan modal seadanya Souw Beng Kong mulai berdagang macam-macam barang. Berkat keuletan usahanya, dalam waktu cukup singkat Souw Beng Kong memiliki perkebunan lada yang luas dan menjadi pedagang lada yang andal.

Sebagai perantau, Souw Beng Kong sadar dia harus belajar bahasa melayu dan kebiasaan2 umum penduduk setempat agar dapat diterima dengan baik. Souw Beng Kong mempunyai banyak sahabat petani Banten dan pedagang asing dari manca negara dan dalam hal ini kefasihannya berbahasa melayu sangat menguntungkan sehingga ia tampil menjadi seorang tokoh pedagang China yang sangat berpengaruh dan dihormati di Banten.

Souw Beng Kong juga menjadi sahabat kepercayaan Sultan Banten (Tokoh penguasa di Banten waktu itu ), karena Beng Kong dan rekan2 orang China lainnya tanpa segan berbagi ilmu pengetahuan untuk memajukan perekonomian daerah Banten. Salah satunya adalah memperkenalkan cara menanam padi dengan sistem pematang dan mengajarkan sistem irigasi menggantikan cara berladang petani di Banten. Sehingga sejak saat itu hasil panen padi di Banten menjadi jauh lebih baik.


Pindah dan membangun Batavia (1619)

Kemahsyuran nama Souw Beng Kong terdengar kesegala penjuru kota sehingga pemerintah Belanda meminta bantuan Beng Kong untuk mau pindah ke Batavia, sebuah kota baru yang sepi. Karena kharisma kepemimpinannya yang baik, ratusan keluarga China yang pada umumnya petani dan pedagang ikut pindah ke Batavia.

Souw Beng Kong juga berhasil membuka jalur perdagangan sehingga Jung2 kapal dari China mendarat di Batavia. Sejak itu Batavia tumbuh berkembang menjadi kota bandar yang ramai dan merupakan pusat perdagangan yang penting di Asia Tenggara. Untuk membalas jasa besar Beng Kong, pemerintah Belanda memberinya gelar Kapitan.


Kapitan China pertama (1619-1626)

Selain jasa Souw Beng Kong menghidupkan perekonomian kota Batavia, dia juga berjasa dalam menjembatani hubungan antara pemerintah Belanda, warga China dan penduduk setempat di Batavia sehingga semua pihak dapat hidup rukun dan harmonis.

Disatu pihak Souw Beng Kong dipercaya warga China untuk menjadi penasehat resmi adat istiadat China, menjadi juru bicara dalam pengadilan sekaligus penanggung jawab semua kegiatan warga China. Dipihak lain pemerintah Belanda mempercayai Souw Beng Kong untuk mengurus tempat perjudian, membuat mata uang timah dan mengurus pembangunan rumah pejabat Belanda.


Rencana pulang ke China

Pada tahun 1926, Souw Beng Kong mengundurkan diri dari jabatan Kapitan karena ingin berlayar pulang ke China dan mengangkat penggantinya yaitu Phoa Beng Gan, untuk meneruskan tugas2 dan rencana pembangunan di kota Batavia yang masih belum selesai. Phoa Beng Gan berjasa dalam pembangunan kali ciliwung yang membelah Jalan Gajah Mada dan Jalan Hayam Wuruk, untuk pencegahan banjir di kota Batavia dan juga pengembangan perkebunan tebu untuk memulai industri gula.

Namun Beng Kong kembali lagi ke Batavia pada tahun 1929 dan membantu pemerintah Belanda dalam mengurusi harta peninggalan warga China. Beng Kong juga berjuang tak henti untuk meminta perbaikan fasilitas kesehatan daerah pemukiman warga China. Pada tahun 1936, perjuangannya ini dilanjutkan oleh Lakim.


Meninggal dan dimakamkan

Souw Beng Kong wafat pada tanggal 8 April 1644 di rumahnya. Upacara pemakamannya dilakukan dengan sangat hikmat. Ribuan warga Batavia baik warga setempat maupun warga China, para sahabat dan kenalan menghadiri pemakaman untuk memberi penghormatan terakhir atas jasa2 besarnya untuk kota Batavia. Kota kecil yang setelah ratusan tahun berkembang menjadi kota metropolitan modern yaitu Jakarta.

Makam Souw Beng Kong masih dapat ditemukan di Gang Taruna, Jl. Pangeran Jayakarta dan terbuka untuk umum bagi yang ingin mengunjungi.